Cintaku Sebesar Biji Padi

 
Berlembar kisah telah tertoreh dalam bersamaan kita. Detik demi detik yang berlalu menambah keyakinanku akan kecantikan pribadimu. Hingga hati berkata tak mau kehilanganmu. Berikut ini hasil ayunan jemariku tuk mengungkap sedikit isi hatiku bahwa engkaulah pilihanku. Mungkin tidak seindah yang kau pikirkan, namun apalah daya ku tak sepandai pencinta atau pujangga.

Cintaku Sebesar Biji Padi

Kurasakan indah
Mencintaimu dan dicintaimu
Sepenuh hati tanpa ragu tuk menyatu
Menghilangkan dahaga cinta yang selama ini kucari
Di hamparan luasnya semesta nurani

Ingin kuungkapkan betapa besarnya cintaku
namun ku tak mampu tuk mengukur kedahsyatannya
namun ku tak mampu mengartikan karena begitu besarnya

Lalu ku amati sebulir padi yang tergeletak tak berdaya
Kecil namun penuh arti..

Hmmm..
Inilah ukuran besarnya cintaku padamu
Cinta yang bersemi dari sebutir semburat senyumanmu
selaksa biji padi yang memberi harapan bagi para petani
Kuabadikan sebagai bekal awalku tuk mencintaimu
Biji sebagai benih yang kan terus menumbuhkan kemahakayaan alam
Memberi kesejahteraan bagi kehidupan
Sebagai tumpuan hidup segenap insan

Dipupuk kasih sayang penuh keikhlasan
Kurajut hari demi hari penuh kesabaran
Tuk mencipta simpul indah di tiap tangkai ketulusan
Kupercikkan sebait do'a yang kutorehkan tuk kebersamaan yang abadi
Hingga bercabang keemasan di tiap tangkainya
Melahirkan jutaan benih padi yang siap menumbuhkan jutaan benih lainnya
Tak henti memberi kebahagiaan pada manusia
Melukiskan keinginan hati tuk merangkai ikatan suci
Yang melahirkan insan berguna bagi semua

Sekecil biji padi kan mencipta kegembiraan tanpa henti bila dirawat penuh ketulusan hingga terhampar berlapis alam hijau keemasan yang meneduhkan pandangan dan memberi manfaat luar biasa besar bagi seluruh penghuni alam.

Inilah cintaku..
Cinta yang sederhana namun terus tumbuh mengakar dari masa ke masa..

Padamu cintaku,
I love you, i'll always beside you.. :) 


Karya dari insan yang selalu mengagumimu.



TAUFIQ     NOFITASARI

Satu Kata

Sentuhan cinta merupakan anugerah yang penuh rahasia. Tak ada waktu yang mampu menghitung betapa indah kalbu yang merasa. Bergema syahdu dan melantun penuh khidmat bagi jiwa-jiwa yang terlena olehnya. Hmmmm.. Mataku terpejam sesaat merasakan belaian udara yang menyapu kegalauan jiwa. Bersinar terang melentera alunan kasih yang saling mencinta.

Tak bosan blog karya sastra indonesia menghadirkan bait-bait puisi yang menggetarkan cinta, berbekal ungkapan hati, penulis menggoreskan kata demi kata yang mewakili bisikan kalbu penuh arti dan hanya mampu terungkap oleh insan nan suci atas cinta dalam sanubari. Berikut senandung cinta yang tercipta oleh sang pujaan hati yang mungkin tersenyum malu membaca kalimat demi kalimat yang kuungkapkan melalui postingan ini... :)

Note : Segera periksakan diri apabila Anda senyum-senyum sendiri setelah membaca.. ;)


Karya Sastra Indonesia

"SATU KATA"

Begitu sangat berharga
Begitu sangat berarti
Tak ada satupun kata
Yang dapat mengalahkannya

Dunia terasa suram
Hidup lebih hampa
Langit selalu gelap
Burung-burung tak berkicau riang
Jika satu kata itu tak ada

Semua usia pasti merasa
Seluruh penjuru menerima adanya
Bergantinya musim dan zaman
Tidak dapat menggesernya

Satu kata yang berdiri tegak
Menjadikan hati seorang insan
Dapat tertawa dan menangis dibuatnya
Satu kata itu adalah CINTA...

By : Lentera Cinta Nofitasari 

Bukan Sebuah Mimpi

Perjalanan kehidupan seorang manusia tentu mengandung kisah yang beragam. Perasaan senang, sedih, takut, dan perasaan lainnya bergelayut pada sebongkah hati yang takkan mampu kita analogikan betapa besar kuasa-NYA. Allahu Akbar, lisanku lirih menggumam, tak lain hidup hanyalah untuk taqwa pada-NYA.

Pada kesempatan kali ini, blog karya sastra indonesia ingin menyajikan untaian puisi dari seorang gadis jelita yang memberikan sebuah warna merona dalam kehidupan seseorang yang menyimpan rasa dalam pelupuk hatinya. Puisi yang mengandung arti mendalam tentang perjuangan sang penulis yang berjuang merayapi kehidupan dunia dengan penuh rasa optimis tak kenal menyerah, hingga angan menjadi nyata dan rasa syukur tak henti terlantun pada-NYA. Karya sastra yang cukup indah karena cinta yang berkata.. :)


Karya Sastra Indonesia


Bukan Sebuah Mimpi

Mata menatap langit
Tubuh diam mendekap indahnya bumi
Pikiran memulai untuk berbisik
Mmencoba menggerakkan suara kecil
Namun tak dapat ditangkap sanubari

Melewati waktu tanpa pasrah
Keyakinan menguatkan untuk bertahan
Tak gentar akan rintangan menghadang
Tak peduli juga akan kekurangan
Dan tak selamanya kelebihan dijadikan patokan

Kini perjuangan tak sia-sia
Tujukkan senyum, tepuk tangan, dan patut bangga
Ucapkan rasa syukur dalam lantunan doa
Agar menjadi abadi selamanya
Karena semua ini bukanlah sebuah mimpi belaka

By : Ayangku Nofitasari

Nasionalisme dan Politik


Skema sejarah politik di Indonesia terus mengalami perubahan, tergantung siapa pemegang kekuasaan. Di mulai dari orde lama, orde baru, hingga orde reformasi hingga sekarang ini. Tak terungkap bagaimana para penguasa mempergunakan jabatannya, apakah lebih mengutamakan kepentingan pribadi ataukah kepentingan rakyat Indonesia. Semua ini mengungkapkan bahwa negara Indonesia telah mengalami banyak perubahan di bidang politiknya. Sistem pemerintahan diktator hingga demokrasi pun menjadi warna tersendiri bagi Indonesia. Puisitentang politik di bawah ini akan menggambarkan secara jelas bagaimana pengaruh seorang penguasa negara terhadap tingkah laku rakyatnya. Dan tingkah laku tersebut mampu berubah secara signifikan ketika pemegang pemerintahan telah berganti. Berikut karya sastra indonesia dalam bentuk puisi politik berbau nasionalisme yang merupakan kiriman dari sahabat Mamank.


Nasionalisme dan Politik

Budi dulunya seorang mahasiswa
Dikenal karena orasinya
Ditangkap karena kritiknya pada penguasa


Wati awalnya aktivis juga
Demonstran di jalanan dan penghimpun kuli pabrikan
Digerebek di kos-kosan


Disembunyikan di seberang lautan
Budi dan wati dikejar tentara dan polisi
Keduanya pernah menghuni bui
Keduanya pernah dikagumi
Tapi lain dulu lain kini


Anto dulunya seorang tentara
Jenderal yang banyak bintangnya
Tanyalah padanya tentang aktivis yang kehilangan nyawa
Tanyalah tentang kepatuhannya pada penguasa
Tapi lain dulu lain kini


Waktu berlalu musim berganti
Budi, Wati, dan Anto bersalaman dan berangkulan
Dalih bisa dibuat, teori bisa dimanipulasi
tapi kenyataan tak bisa ditutupi


Dulu berjuang kini menyeberang
Dulu menghujat kini berkhianat
Dulu berlawanan kini satu komplotan


Waktu berlalu musim berganti
Bunga yang bersemi ada waktunya mati
Entah dimakan ulat atau gugur ke bumi
Tak ada yang perlu ditangisi
Ambil pelajaran dan camkan di hati
Biar terurai bagi bibit-bibit baru nanti





_____________________
Sumber Gambar : http://algaity-aboutfeel.blogspot.com/2011/04/politik.html
Sumber puisi : http://www.militanindonesia.org/

Tidak Mengenal Cahaya


Pada kesempatan kali ini karya sastra indonesia mencoba meramu beberapa kata indah yang membentuk sebuah puisi disabilitas penuh makna yang sebelumnya juga telah menghadirkan puisi menyentuh yang berjudul Hanya Satu yang Membisu sebelumnya. Berisi perjuangan seorang pengemis buta yang rela mengorbankan waktunya untuk mencari uang demi menghidupi anak-anaknya yang masih kecil. Dengan tulus ikhlas dia melangkah bertumpu pada tongkat bambu sebagai penunjuk jalan dengan berbagai rintangan yang menghadangnya. Puisi perjuangan ini dapat menjadi renungan bagi kita yang telah dianugerahi kesempurnaan fisik dan kemampuan bekerja secara layak. Hidup kadang terasa tidak adil bagi sebagian orang, namun ingatlah bahwa Allah Maha Adil kepada setiap hamba-Nya. Allah lah yang lebih tahu akan arti hidup setiap manusia. Dia lah yang akan membalas setiap perjuangan yang dilalui hamba-Nya di dunia. Oleh karena itu janganlah mengeluh dalam menjalani kehidupan ini. Mari perbanyak amal ibadah sebagai bekal kita menjalani kehidupan di akhirat kelak. "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (Q.S. Ar-Rohman : 13)

Tidak Mengenal Cahaya


Tongkat lusuh bambu
Meraba langkah
Sepanjang samudera berbatu
Sepanjang lapangan retak
Oleh teriknya surya

Hanya Satu
Tujuan langkah
Mengais receh dari jemari dermawan
Lelah tak terasa
Jarak tak terhitung
Keringat tak terusap
Darah kaki tak terobati

Namun semua kau leburkan
Di dalam dekapan buah hati tercinta
Setia menunggu
Sesuap nasi yang kau beli
Atas hasil tengadah tanganmu

Engkau hanya percaya
Hidup bukanlah dunia
__________________
Sumber Gambar : http://iswara-itp.blog.uns.ac.id/2012/09/17/hilang-cahaya-mu/